Postingan

Ada Kasih di Kota Karang

Gambar
Mengisahkan Tentang Kota Karang memang sangatlah rumit, tanah yang penuh bebatuan yang lebih parah lagi bebatuan itu adalah karang yang seharusnya ada di dasar laut. Saat musim kemarau  suhu  udara di kota karang bisa mencapai 30 derajat Celcius, juga pohon- pohon serta tanaman lainya yang ada di kota karang dengan nakal dan kejamnya menggugurkan daunnya  sangat berbeda dengan kota-kota lainya. Namun walaupun keadaan kota karang yang sangat misterius ini tak sedikit orang yang ingin  bertempat tinggal maupun yang datang sebentar ke kota ini entah untuk urusan pekerjaan, bisnis, mencari kerja maupun mereka yang datang melanjutkan pendidikan, banyaknya penduduk dan pendatang di kota ini buktinya kemacetan yang tiada henti dari jam 06.00 hingga pukul 24.00 kendaraan yang  ada di jalanan  begitu banyak sampai-sampai bagi  pejalan kaki merasa ketakutan untuk menyebarag  bahkan di lampu merah sekalipun, ini dikarenakan kebiasaan dan sering t...

Teruntuk Pendekar Kaum Ku

Gambar
Pada sehelai kertas tua  Kau tuliskan semboyan untuk kaum mu  "Habis Gelap Terbitlah Terang" Menolak penindasan di tengah penjajahan  Teruntuk pendekar kaum ku  Lekuk indah tubuh mu, senyum manis bibirmu Kau menolak kapitalis, menjunjung tinggi nilai luhur  Teruntuk pendekar kaum ku  Kau jelajah dunia dengan terang pikiran  Di tangan kau genggam Pena dan kertas tua  Berbalut Kebaya dan batik, kau menjamah ingatan  Kita berasal darimana

Tentang Perkenalan Kita

Gambar
Perkenalan kita begitu sederhana Kau yang tak mempersoalkan tentang wajah  Dan aku yang tak tahu bagaimana berdandan  Perkenalan kita begitu sederhana  Kau yang tak memandang harta,menerima Aku yang biasa saja  Bagi kita untuk keadaan demikian Hanya ada dua pilihan, memilih  Untuk tetap tinggal atau meninggalkan  Perkenalan kita begitu sederhana  Kau yang berada di Pulau seberang  Sedang aku disini masih berjuang  Awalnya kita sempat berpisah sejenak  Tapi kini kita kembali untuk benar -benar  menetap 

Harapan Ku Tertunda Di Terpah Musibah

Gambar
Petang sore itu  Jingga di ufuk barat seolah redup  Awan tampak hitam dan lesu  Gemuru angin begitu nyaring  Menghempas kejam segala yang ada  Sejenak lenyap  Membuka mata dalam ketakutan  Doa-Doa dalam teriakan dimana -mana Kita kehilangan harapan kawan  Kemana kita mencari puing -puing harapan  Lagu berita kepada kawan terdengar jelas  Tanahku diterpah musibah, harapan ku tertunda Ini menjadi sejarah,semoga esok dan nanti tak lagi sama 

Perjalanan Ke Golgota

Gambar
Pagi-pagi benar  Rinai-rinai hujan membasahi bumi,sedang aku melanjutkan perjalanan  Langkahku tetahan saat memandang wajahnya  Hati ku pilu sendu,aku bertanya tanpa kata Sebab tatapanya memberi pesan  Namun aku menunduk malu menyesali, sesekali ingin lari Kepala ku bertanya pada hati; Tuhan sudah pantaskah aku?  Tepat di Sepertiga hari itu  Awan-awan menjadi kejam hingga langit begitu gelap Semua diam membisu,di Golgota suara nyaring terdengar "Eli Lama sabachthani"

Luka Yang Sama

Gambar
Pada Doa-Doa yang Dipanjat  Ku Sisipkan Harapan Untuk Nyata Lalu Berharap Kita Berjumpa Dalam Alam Mimpi  Nyatanya Tak Seindah Demikian Sepertiga Malam  Rinai-Rinai Hujan Mengundang Dingin  Aku Sibuk Memeluk Diri Dari Kesunyian  Dahulu Aku Kira Kau Ingin Menetap Tapi,  Nyatanya Kau Sekedar Singgah,Melukis Kisah Lalu Membawa Luka Yang Sama 

Hujan dan Kopi Pagi

Gambar
Fajar pagi menggundang di timur semester  Di meja yang sama aku  duduk termenung  Sedang di luar hujan dengan giat membasahi  bumi Air Tuhan turun sedang aku sibuk menikmati kopi  Hujan dan kopi pagi  Suguhan dari dapur ibu sebuah kebiasaan, yang  Selalu dirindu Di meja ini imajiku menarik kata hingga melukis nama Hujan dan kopi pagi  Kebiasaan yang membuatku bertahan,hingga lupa kenyataan  Ibu sudah menua, Bapak sudah uban sedang aku masih melajang Maaf  aku bukan tak ingin menikah tapi, aroma dapur  ibu,hujan dan kopi pagi  Mengajak ku menetap di rumah orang tua